Prof. Dr. Muhammad Japar, M.Si, Kons menjadi guru besar pertama di UM Magelang setelah Perguruan Tinggi  Muhammadiyah tersebut berusia 53 tahun. Upacara Pengukuhan Guru Besar diadakan Sabtu, 7/10 di Auditorium Kampus 1 UM Magelang dalam acara Sidang Terbuka Senat UM Magelang. Surat Keputusan  (SK) Pengangkatan Guru Besar Prof. Dr. Muhammad Japar, M.Si, Kons dibacakan oleh Sekretaris Senat, Ns. Sigit Priyatno, M.Kep. Adapun pengukuhan dilakukan oleh Rektor UM Magelang, Ir. Eko Muh Widodo MT selaku ketua senat  dengan mengalungkan samir guru besar serta menyerahkan SK disaksikan oleh seluruh tamu undangan.

Usai dikukuhkan, Japar yang merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Bimbingan dan Koseling itu menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Penemuan dan Pengembangan Spiritualitas di Tempat Kerja sebagai Salah Satu Usaha Mewujudkan Visi UM Magelang : Unggul dan Islami.  Dalam pidatonya, Japar antara lain menyampaikan  bahwa kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak umat manusia untuk cerdas dalam memilih atau memeluk salah satu agama yang dianggap benar.

Beberapa teori disampaikan oleh Japar di hadapan tamu undangan, antara lain Wakil Walikota Magelang beserta jajaran Muspika Magelang serta  Ketua Pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di wilayah Kedu. Rektor dari beberapa perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah juga hadir dalam acara tersebut.

Japar mengungkapkan pendapat Howard tentang empat aspek dalam spiritualitas yakni makna hidup yang berhubungan dengan diri sendiri, bagi orang lain, alam dan lingkungan, serta berhubungan dengan Tuhan. Dalam penelitian terhadap remaja  yang dilakukannya tahun 2014 menunjukkan bahwa tingkat spiritualitas remaja awal berada pada tingkat baik. “Remaja yang memiliki spiritualitas tinggi memiliki penyesuaian yang tinggi, baik fisik maupun sosialnya,” ujar suami Dr. Purwati, MS, Kons tersebut.

Adapun pengembangan spiritualitas di tempat kerja menurut bapak tiga anak itu, perlu ditingkatkan. Kegiatan Darul Arqam bagi pegawai UM Magelang misalnya, tidak hanya berupa kajian Islam dengan pengayaan kognitif atau intelektualnya saja, tetapi diharapkan dapat menjangkau aspek afektif dan tingkah laku dengan adanya laporan diri dan monitoring. “Spiritual pegawai UM Magelang menentukan kualitas pengabdian pada institusi pada khususnya, dan kualitas hidup pada umumnya,” pungkas  Japar yang berusia 59 tahun itu.

Dra. Windarti Agustina, Wakil Walikota Magelang yang hadir dan menyampaikan sambutan mengatakan, peran profesor atau guru besar sangat dinanti oleh masyarakat karena gelar profesor merupakan penanda bahwa yang bersangkutan  adalah orang yang berpendidikan dan dapat mengamalkan ilmunya untuk kemslahatan manusia. Hal tersebut juga disampaikan oleh Prof. Dr. Noor Rochman Hadjam dari PP Muhammadiyah yang mengatakan bahwa masyarakat mengharapkan peran atau andil dari seorang guru besar untuk kehidupan yang lebih baik.

HUMAS